
Kurikulum Nasional 2026: Apa yang Berubah dan Kenapa Orang Tua Perlu Tahu
Kalau kamu sedang mencari sekolah untuk anak di tahun 2026, ada satu hal yang sebaiknya tidak dilewatkan: memahami arah kurikulum nasional 2026. Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah Kurikulum Merdeka. Lalu muncul istilah pembelajaran mendalam, Profil Lulusan, coding, dan kecerdasan artifisial. Wajar kalau akhirnya muncul pertanyaan: sebenarnya apa yang berubah?
Kalau kamu sedang mencari sekolah untuk anak di tahun 2026, ada satu hal yang sebaiknya tidak dilewatkan: memahami arah kurikulum nasional 2026.
Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah Kurikulum Merdeka. Lalu muncul istilah pembelajaran mendalam, Profil Lulusan, coding, dan kecerdasan artifisial. Wajar kalau akhirnya muncul pertanyaan: sebenarnya apa yang berubah?
Jawabannya cukup menarik.
Kurikulum nasional 2026 bukan berarti pemerintah mengganti semuanya dengan kurikulum baru. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 justru menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan penguatan dan penyesuaian terhadap kurikulum yang sudah berjalan. Pada tahun ajaran 2025/2026, Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 masih menjadi kurikulum yang berlaku sesuai ketentuan implementasinya. (Kemendikdasmen)
Namun, ada beberapa perubahan arah yang akan semakin terasa di sekolah.
Dan sebagai orang tua, kamu perlu tahu apa artinya perubahan tersebut bagi pengalaman belajar anak.
Jadi, Apa Sebenarnya yang Berubah pada Kurikulum Nasional 2026?
Perubahan terbesar bukan sekadar mengganti nama kurikulum.
Fokusnya lebih kepada bagaimana anak belajar dan kompetensi apa yang ingin dibangun.
Pemerintah memperkuat pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Anak tidak hanya diarahkan untuk menghafal materi, tetapi memahami konsep secara lebih utuh, menghubungkan berbagai konsep, menerapkannya dalam situasi berbeda, serta melakukan refleksi terhadap proses belajarnya.
Selain itu, struktur kegiatan pembelajaran juga diperkuat melalui pengaturan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ada pula pengenalan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial secara bertahap.
Jadi, kalau kamu melihat sekolah mulai berbicara lebih banyak tentang kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, teknologi, dan pembelajaran berbasis pengalaman, itu bukan sekadar tren pendidikan.
Arah tersebut memang semakin kuat dalam kebijakan pendidikan nasional.
1. Pembelajaran Mendalam Menjadi Salah Satu Arah Utama
Istilah “pembelajaran mendalam” mungkin terdengar seperti anak akan mendapatkan pelajaran yang lebih sulit.
Sebenarnya bukan itu maksudnya.
Pembelajaran mendalam menekankan pemahaman yang lebih bermakna. Anak diharapkan tidak sekadar tahu jawaban, tetapi memahami mengapa jawabannya demikian dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan.
Misalnya, dalam pelajaran matematika, anak tidak hanya menghafalkan rumus luas. Mereka dapat diajak memahami bagaimana konsep tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan material ketika membuat sesuatu.
Dalam pelajaran sains, anak tidak hanya menghafalkan jenis-jenis energi. Mereka dapat diajak mengamati penggunaan energi di rumah dan mendiskusikan bagaimana cara menggunakannya secara lebih efisien.
Pendekatan seperti ini membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam diarahkan agar murid memahami materi secara utuh, menghubungkan antarkonsep, dan mampu menerapkannya dalam konteks yang berbeda.
Bagi orang tua, perubahan ini berarti kamu sebaiknya tidak hanya bertanya kepada sekolah, “Kurikulumnya apa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana sekolah menerapkan pembelajaran mendalam di kelas?”
2. Profil Lulusan Menggantikan Istilah Profil Pelajar Pancasila
Perubahan lainnya adalah penggunaan istilah Profil Lulusan.
Kalau sebelumnya kamu sering mendengar Profil Pelajar Pancasila, kebijakan terbaru menggunakan Profil Lulusan sebagai bagian dari arah capaian pendidikan.
Ini bukan berarti nilai-nilai Pancasila dihilangkan.
Pemerintah menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan penguatan posisi karakter dan kompetensi sebagai bagian dari Standar Kompetensi Lulusan.
Profil Lulusan mencakup delapan dimensi. Di dalamnya terdapat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, penalaran kritis, kolaborasi, kesehatan, komunikasi, kemandirian, kreativitas, dan kewargaan.
Menariknya, delapan dimensi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik.
Anak juga diharapkan mampu berpikir kritis.
Mampu bekerja sama.
Mampu berkomunikasi.
Mampu mandiri.
Dan memiliki kemampuan untuk berkontribusi sebagai bagian dari masyarakat.
Karena itu, ketika memilih sekolah, kamu bisa mulai melihat apakah program sekolah memang memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
3. Coding dan Kecerdasan Artifisial Mulai Masuk sebagai Pilihan
Ini mungkin perubahan yang paling menarik perhatian orang tua.
Koding dan Kecerdasan Artifisial atau AI ditetapkan sebagai mata pelajaran pilihan untuk kelas 5 sampai kelas 12. Implementasinya dilakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026, dimulai dari kelas 5, kelas 7, dan kelas 10.
Artinya, teknologi mulai mendapatkan posisi yang lebih jelas dalam pendidikan dasar dan menengah.
Namun, jangan membayangkan anak SD langsung harus menjadi programmer.
Pembelajaran Koding dan AI dapat disesuaikan dengan jenjang dan usia siswa. Fokusnya bukan hanya menggunakan teknologi, tetapi juga membangun cara berpikir yang mendukung kemampuan memecahkan masalah.
Dalam praktiknya, anak dapat diperkenalkan pada computational thinking, pola, algoritma, pemecahan masalah, hingga pemahaman dasar mengenai teknologi AI.
Bagi orang tua, ini membuka pertanyaan baru ketika memilih sekolah.
Apakah sekolah menyediakan Koding dan AI?
Untuk kelas berapa?
Apakah menjadi mata pelajaran pilihan atau bagian dari kegiatan lainnya?
Siapa yang mengajarkan?
Dan yang tidak kalah penting, apakah sekolah memiliki guru yang mendapatkan pelatihan yang memadai?
Pada Juli 2026, Kemendikdasmen juga menyatakan bahwa pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial diperluas melalui Ruang GTK agar guru dapat meningkatkan kompetensinya.
Jadi, bukan hanya anak yang perlu beradaptasi.
Guru juga perlu terus meningkatkan kompetensinya.
4. Kegiatan Kokurikuler Menjadi Lebih Fleksibel
Perubahan lainnya terjadi pada kegiatan kokurikuler.
Sebelumnya, orang tua mungkin lebih familiar dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5.
Dalam kebijakan terbaru, kegiatan kokurikuler dibuat lebih fleksibel dan dapat memiliki bentuk yang lebih beragam. Kegiatannya dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran atau disiplin ilmu, integrasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, maupun penguatan pembelajaran intrakurikuler. (Kemendikdasmen)
Apa artinya bagi anak?
Pengalaman belajar tidak harus selalu dipisahkan berdasarkan mata pelajaran.
Misalnya, sebuah proyek mengenai lingkungan dapat menggabungkan sains, matematika, bahasa, seni, dan pendidikan kewargaan.
Anak belajar beberapa kompetensi sekaligus melalui satu pengalaman yang lebih nyata.
Bagi orang tua, ini juga berarti kamu mungkin akan melihat lebih banyak aktivitas proyek, kolaborasi, presentasi, penelitian sederhana, atau kegiatan yang menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
5. Pramuka atau Kepanduan Tetap Mendapat Tempat
Ada satu perubahan lain yang mungkin terlewat.
Sekolah diwajibkan menyediakan kegiatan ekstrakurikuler berupa Pramuka atau bentuk kepanduan lainnya.
Namun, penting membedakan antara sekolah wajib menyediakan dengan setiap siswa otomatis wajib mengikuti kegiatan tersebut.
Kebijakan tersebut menempatkan Pramuka atau kepanduan sebagai kegiatan yang harus tersedia di satuan pendidikan.
Bagi anak, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk membangun kemandirian, kolaborasi, kepemimpinan, komunikasi, dan keterampilan sosial.
Ini juga sejalan dengan arah Profil Lulusan yang tidak hanya menekankan kompetensi akademik.
6. Apakah Semua Mata Pelajaran Berubah?
Tidak.
Ini bagian yang sangat penting untuk dipahami karena istilah “kurikulum nasional 2026” bisa membuat orang tua mengira seluruh materi pelajaran berubah sekaligus.
Pada Juni 2026, pemerintah menetapkan Keputusan Kepala BKPDM Nomor 020 Tahun 2026 terkait perubahan Capaian Pembelajaran. Namun, perubahan tersebut hanya mencakup mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti. Capaian Pembelajaran untuk mata pelajaran lainnya tetap mengacu pada Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025.
Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa seluruh mata pelajaran mengalami perubahan besar pada 2026.
Perubahannya lebih terukur.
Ini juga penting bagi orang tua yang sedang mencari sekolah karena informasi mengenai kurikulum sebaiknya berasal dari sumber resmi, bukan hanya dari konten media sosial atau percakapan antarorang tua.
Apa Dampaknya bagi Anak di Sekolah?
Dari sudut pandang anak, perubahan ini diharapkan membuat proses belajar lebih bermakna.
Anak tidak hanya duduk, mendengarkan guru, lalu mengerjakan soal.
Mereka semakin didorong untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, membuat hubungan antarkonsep, menyelesaikan masalah, dan menjelaskan pemikirannya.
Namun, implementasi tetap sangat bergantung pada sekolah dan guru.
Ini poin penting.
Kurikulum yang bagus di atas kertas tidak otomatis menghasilkan pengalaman belajar yang bagus di kelas.
Kualitas implementasi sangat menentukan.
Karena itu, ketika kamu membandingkan sekolah, jangan hanya melihat nama kurikulumnya. Lihat bagaimana sekolah menerjemahkan kurikulum tersebut menjadi kegiatan belajar sehari-hari.
Apa yang Perlu Ditanyakan Orang Tua Saat Memilih Sekolah?
Kalau kamu sedang melakukan school visit atau datang ke open house, gunakan perubahan kurikulum nasional 2026 sebagai bahan untuk bertanya.
Kamu bisa menanyakan bagaimana sekolah menerapkan pembelajaran mendalam. Tanyakan apakah siswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan proyek dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.
Tanyakan juga apakah Koding dan AI tersedia. Jika tersedia, cari tahu mulai kelas berapa dan seperti apa bentuk pembelajarannya.
Jangan lupa menanyakan bagaimana sekolah mengembangkan delapan dimensi Profil Lulusan. Apakah hanya melalui kegiatan tertentu atau sudah terintegrasi dalam proses pembelajaran sehari-hari?
Pertanyaan seperti ini akan memberikan gambaran yang jauh lebih jelas daripada sekadar mengetahui bahwa sekolah menggunakan “Kurikulum Merdeka”.
Kurikulum Bukan Satu-Satunya Faktor Saat Memilih Sekolah
Memahami kurikulum nasional 2026 memang penting.
Tetapi jangan sampai kurikulum menjadi satu-satunya dasar keputusan.
Kamu tetap perlu mempertimbangkan gaya belajar anak, bahasa pengantar, ukuran kelas, kualitas guru, student support, fasilitas, lingkungan sekolah, lokasi, kegiatan siswa, dan biaya pendidikan.
Dua sekolah yang menggunakan kurikulum nasional yang sama bisa memberikan pengalaman belajar yang sangat berbeda.
Satu sekolah mungkin sangat kuat dalam pembelajaran berbasis proyek.
Sekolah lain mungkin lebih unggul dalam literasi dan numerasi.
Ada sekolah yang memiliki program teknologi yang kuat. Ada juga yang lebih menonjolkan seni, olahraga, bahasa, atau pengembangan karakter.
Jadi, pertanyaan akhirnya bukan hanya “Sekolah ini menggunakan kurikulum apa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana kurikulum tersebut diterapkan dan apakah cocok dengan kebutuhan anak saya?”
Saatnya Melihat Sekolah dengan Perspektif yang Lebih Lengkap
Perubahan pendidikan memang bisa terasa membingungkan.
Tetapi kamu tidak perlu memahami setiap istilah kebijakan sampai tingkat teknis untuk membuat keputusan sekolah yang baik.
Cukup pahami arah besarnya.
Kurikulum nasional 2026 semakin menekankan pembelajaran yang bermakna, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, kemandirian, teknologi, dan perkembangan anak secara utuh. Pendekatan pembelajaran mendalam, delapan dimensi Profil Lulusan, serta pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial menjadi beberapa bagian penting dari arah kebijakan tersebut.
Sekarang, tugas kamu adalah mencari sekolah yang mampu menerjemahkan arah tersebut menjadi pengalaman belajar yang sesuai untuk anak.
Bingung sekolah mana yang pas untuk kurikulum yang anak kamu butuhkan? Jelajahi profil sekolah lengkap di Direktori Sekolah Indonesia dan temukan pilihan sekolah yang bisa kamu bandingkan berdasarkan informasi yang lebih lengkap.



