
Reggio Emilia Approach Pendekatan Belajar yang Berpusat pada Anak
Saat mencari preschool atau early years program, kamu mungkin pernah menemukan sekolah yang menuliskan “Kurikulum Reggio Emilia” pada profil mereka. Istilah ini memang cukup populer. Reggio Emilia sering disejajarkan dengan Montessori, Cambridge, IB, atau kurikulum pendidikan lainnya. Akibatnya, cukup mudah bagi orang tua untuk menganggap bahwa Reggio Emilia adalah sebuah kurikulum dengan materi, target pembelajaran, dan struktur yang sudah ditentukan. Padahal, sebenarnya tidak begitu.
Saat mencari preschool atau early years program, kamu mungkin pernah menemukan sekolah yang menuliskan “Kurikulum Reggio Emilia” pada profil mereka.
Istilah ini memang cukup populer.
Reggio Emilia sering disejajarkan dengan Montessori, Cambridge, IB, atau kurikulum pendidikan lainnya. Akibatnya, cukup mudah bagi orang tua untuk menganggap bahwa Reggio Emilia adalah sebuah kurikulum dengan materi, target pembelajaran, dan struktur yang sudah ditentukan.
Padahal, sebenarnya tidak begitu.
Reggio Emilia bukanlah kurikulum baku. Reggio Emilia adalah pendekatan atau filosofi pendidikan yang memengaruhi bagaimana sekolah melihat anak, bagaimana guru mengajar, bagaimana lingkungan belajar dirancang, dan bagaimana proses belajar berkembang.
Jadi, kalau sebuah sekolah di Indonesia mengatakan bahwa mereka menggunakan Reggio Emilia, pertanyaan berikutnya seharusnya bukan hanya, “Kurikulumnya apa?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
“Seperti apa Reggio Emilia diterapkan dalam kegiatan anak sehari-hari?”
Karena di situlah perbedaannya mulai terlihat.
Dari Mana Reggio Emilia Berasal?
Nama Reggio Emilia berasal dari sebuah kota di Italia Utara.
Pendekatan pendidikan ini berkembang melalui jaringan infant-toddler centres dan preschool milik pemerintah kota Reggio Emilia. Salah satu tokoh penting dalam perkembangannya adalah pendidik Italia, Loris Malaguzzi.
Saat ini, pendekatan tersebut telah menjadi referensi pendidikan anak usia dini di berbagai negara. Reggio Children menyebut proyek pendidikan Reggio Emilia telah terhubung dengan lebih dari 145 negara dan wilayah di dunia.
Namun, penyebarannya tidak dilakukan seperti sebuah franchise pendidikan yang memberikan paket kurikulum yang sama kepada setiap sekolah.
Ini penting.
Sekolah di luar Reggio Emilia umumnya menggunakan istilah Reggio-inspired ketika mengadaptasi prinsip-prinsipnya.
Artinya, sebuah preschool di Jakarta dan preschool di Singapura yang sama-sama terinspirasi Reggio Emilia belum tentu memiliki kegiatan, tema, atau program belajar yang identik.
Mereka menggunakan prinsip yang serupa, tetapi penerapannya dapat berkembang sesuai anak, guru, lingkungan, budaya, dan komunitas sekolah masing-masing.
Kenapa Reggio Emilia Bukan Kurikulum?
Kurikulum biasanya memberikan kerangka mengenai apa yang perlu dipelajari anak dalam periode tertentu.
Ada kompetensi.
Ada target pembelajaran.
Ada materi.
Dalam beberapa sistem, ada pula urutan pembelajaran dan standar asesmen yang perlu dicapai.
Reggio Emilia bekerja dengan cara yang berbeda.
Dalam prinsip resminya, kegiatan pendidikan tidak dibangun dengan sekadar menerapkan program yang sudah ditentukan sebelumnya. Perencanaan berkembang melalui proses yang disebut progettazione, yaitu proses merancang pembelajaran melalui observasi, interpretasi, dokumentasi, diskusi, dan penelitian yang terus berkembang bersama anak.
Itulah mengapa lebih tepat menyebut Reggio Emilia sebagai pendekatan pendidikan.
Pendekatan ini menjawab pertanyaan seperti:
Bagaimana kita memandang anak?
Apa peran guru?
Bagaimana anak membangun pengetahuan?
Bagaimana ruang kelas dapat membantu proses belajar?
Bagaimana guru mengetahui apa yang sedang dipikirkan anak?
Dan bagaimana orang tua dapat menjadi bagian dari proses pendidikan?
Jadi, Reggio Emilia bukan memberikan guru buku berisi “Minggu pertama belajar warna, minggu kedua belajar bentuk, minggu ketiga belajar binatang.”
Justru pembelajaran dapat berkembang dari rasa ingin tahu anak.
Anak Dipandang sebagai Individu yang Mampu dan Penuh Potensi
Salah satu fondasi terpenting Reggio Emilia adalah cara pandangnya terhadap anak.
Anak tidak diposisikan sebagai wadah kosong yang menunggu diisi informasi oleh orang dewasa.
Anak dipandang sebagai individu yang memiliki kemampuan, rasa ingin tahu, ide, teori, kreativitas, dan potensi untuk membangun pemahamannya sendiri.
Reggio Children menggambarkan anak sebagai protagonis aktif dalam proses pertumbuhannya. Anak membangun pengalaman dan memberikan makna terhadap pengalaman tersebut melalui interaksi dengan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
Karena itu, proses belajar tidak selalu dimulai dari guru yang mengatakan:
“Hari ini kita akan belajar tentang tanaman.”
Bisa jadi justru dimulai ketika beberapa anak menemukan daun yang berbeda di halaman sekolah.
Satu anak bertanya kenapa ada daun berwarna hijau dan cokelat.
Anak lain memperhatikan bentuknya.
Kemudian muncul pertanyaan tentang pohon.
Guru mengamati percakapan tersebut dan melihat adanya ketertarikan yang dapat dikembangkan.
Dari satu daun, pembelajaran bisa bergerak menuju sains, menggambar, menghitung, bahasa, observasi alam, fotografi, bahkan proyek menanam tanaman.
Di sinilah guru memainkan peran penting.
Kalau Anak yang Memimpin, Apakah Guru Hanya Mengikuti?
Tidak.
Ini salah satu kesalahpahaman yang sering muncul.
Child-led bukan berarti guru membiarkan anak melakukan apa saja tanpa arah.
Dalam Reggio Emilia, guru justru harus menjadi pengamat yang sangat aktif.
Guru mendengarkan percakapan anak.
Mengamati permainan.
Mencatat pertanyaan.
Mengumpulkan karya.
Memotret proses.
Kemudian guru menginterpretasikan apa yang sedang dipikirkan dan ingin diketahui anak.
Dari sana, guru dapat menyiapkan material, lingkungan, pertanyaan, atau pengalaman baru untuk membawa eksplorasi lebih jauh.
Guru bukan sekadar pemberi instruksi.
Guru menjadi partner dalam proses belajar.
Itulah mengapa penerapan Reggio Emilia yang baik membutuhkan kualitas guru yang kuat. Guru perlu memahami perkembangan anak sekaligus mampu mengobservasi, mendokumentasikan, dan merancang kemungkinan pembelajaran berikutnya.
Mengenal Konsep “100 Languages of Children”
Salah satu gagasan paling terkenal dalam Reggio Emilia adalah The Hundred Languages of Children.
Angka 100 bukan berarti anak secara literal harus menguasai seratus bahasa.
Ini adalah metafora.
Anak memiliki banyak cara untuk berpikir, memahami, berkomunikasi, dan mengekspresikan apa yang mereka ketahui.
Bahasa tersebut bisa berupa kata-kata.
Tetapi bisa juga berupa gambar, cat, tanah liat, musik, gerakan, permainan peran, konstruksi, cahaya dan bayangan, material alam, cerita, matematika, atau berbagai bentuk ekspresi lainnya.
Bayangkan anak sedang mempelajari kupu-kupu.
Di sekolah yang Reggio-inspired, pembelajaran tidak harus berhenti pada membaca buku mengenai bagian tubuh kupu-kupu.
Anak mungkin menggambar kupu-kupu berdasarkan pengamatannya.
Membuat bentuknya menggunakan tanah liat.
Mengamati pola sayap.
Menghitung jumlah warna.
Menceritakan proses ulat menjadi kupu-kupu.
Atau membuat gerakan yang menurut mereka menggambarkan cara kupu-kupu terbang.
Semua itu bisa menjadi bagian dari proses pendidikan.
Ruang Kelas Juga Dianggap sebagai “Guru”
Dalam pendidikan Reggio Emilia, lingkungan mendapatkan perhatian sangat besar.
Kamu mungkin pernah mendengar istilah environment as the third teacher.
Maksudnya bukan ruangan secara harfiah menggantikan guru.
Lingkungan dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengundang rasa ingin tahu, interaksi, eksplorasi, dan kemandirian anak.
Karena itu, kelas Reggio-inspired sering terasa berbeda.
Material ditempatkan agar dapat dilihat dan dijangkau anak. Cahaya, warna, benda alami, karya anak, material terbuka, dan area eksplorasi dipikirkan dengan sengaja.
Ruang tidak hanya dibuat cantik untuk difoto.
Ruang memiliki fungsi pedagogis.
Reggio Children sendiri menekankan bahwa ruang interior dan eksterior dirancang sebagai tempat untuk hidup bersama dan melakukan penelitian, sementara benda, furnitur, serta area aktivitas merupakan bagian dari tindakan pendidikan.
Jadi saat school tour, jangan hanya bertanya apakah ruang kelas terlihat bagus.
Perhatikan apakah ruang tersebut membuat anak ingin menyentuh, bertanya, bereksperimen, berdiskusi, dan menciptakan sesuatu.
Kenapa Banyak Karya dan Foto Anak Dipajang?
Kalau masuk ke preschool Reggio-inspired, kamu mungkin melihat banyak foto, tulisan, transkrip percakapan, gambar, dan karya anak di dinding.
Itu bukan sekadar dekorasi.
Namanya documentation atau dokumentasi pembelajaran.
Dokumentasi merupakan salah satu bagian penting dalam Reggio Emilia karena membuat proses berpikir dan belajar anak menjadi terlihat.
Misalnya, guru tidak hanya memajang gambar rumah buatan seorang anak.
Guru dapat mendokumentasikan pertanyaan awal anak, foto ketika ia membuat gambar, komentar yang disampaikan selama proses, perubahan ide, hingga hasil akhirnya.
Dengan begitu, orang tua tidak hanya melihat:
“Anak saya hari ini menggambar rumah.”
Mereka bisa melihat bagaimana anak berpikir.
Dokumentasi juga membantu guru menentukan arah eksplorasi berikutnya.
Jadi, hasil akhir bukan satu-satunya hal yang penting.
Prosesnya juga merupakan bagian dari pembelajaran.
Project-Based Learning Memiliki Peran Besar
Reggio Emilia juga erat dengan pembelajaran melalui proyek dan eksplorasi yang mendalam.
Sebuah topik tidak harus selesai dalam satu pertemuan.
Ketertarikan anak bisa berkembang menjadi proyek selama beberapa hari, minggu, atau bahkan lebih lama, tergantung bagaimana eksplorasinya berkembang.
Misalnya, anak-anak tertarik pada hujan.
Guru tidak langsung memberikan semua jawaban.
Mereka dapat mengajak anak mengamati air, membuat wadah penampung hujan, menggambar awan, membandingkan volume air, membaca cerita, bereksperimen dengan suara air, hingga mendiskusikan dari mana hujan berasal.
Penelitian di Indonesia mengenai pendekatan Reggio Emilia juga menyoroti penggunaan pembelajaran berbasis proyek dan material terbuka sebagai bagian dari pendekatan yang berorientasi pada anak.
Pembelajaran akhirnya dapat menyentuh sains, bahasa, matematika, seni, kemampuan sosial, dan kemampuan memecahkan masalah secara bersamaan.
Orang Tua Juga Bagian dari Proses Belajar
Reggio Emilia tidak melihat pendidikan sebagai hubungan dua arah antara guru dan anak saja.
Keluarga juga memiliki peran.
Partisipasi keluarga merupakan salah satu prinsip yang secara eksplisit disebut dalam Reggio Emilia Approach.
Karena itu, komunikasi sekolah dan orang tua idealnya tidak hanya berupa laporan nilai atau pesan bahwa anak sudah makan siang.
Orang tua diajak memahami proses belajar.
Dokumentasi membantu keluarga melihat pertanyaan yang sedang dieksplorasi anak, perkembangan pemikirannya, dan pengalaman yang terjadi di sekolah.
Hubungan antara anak, guru, keluarga, dan komunitas menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.
Bisakah Reggio Emilia Digabungkan dengan Kurikulum Lain?
Bisa.
Dan justru di sinilah perbedaan antara kurikulum dan pendekatan menjadi semakin jelas.
Sebuah sekolah dapat memiliki kurikulum atau learning framework tertentu, lalu menggunakan prinsip Reggio Emilia dalam cara pembelajarannya.
Contohnya, ada sekolah di Indonesia yang menyatakan program early years mereka menggunakan Cambridge Early Years Curriculum tetapi terinspirasi oleh Reggio Emilia Approach, dengan pembelajaran yang berpusat pada anak, eksplorasi langsung, dan inquiry.
Jadi kedua istilah tersebut tidak harus saling menggantikan.
Secara sederhana:
Kurikulum membantu menjawab apa yang perlu dipelajari.
Reggio Emilia membantu membentuk bagaimana proses belajar tersebut terjadi.
Inilah alasan menyebutnya hanya sebagai “Kurikulum Reggio Emilia” dapat menyederhanakan konsep yang sebenarnya jauh lebih luas.
Apakah Reggio Emilia Cocok untuk Semua Anak?
Tidak ada satu pendekatan pendidikan yang otomatis cocok untuk setiap anak.
Reggio Emilia biasanya menarik bagi keluarga yang menghargai eksplorasi, kreativitas, inquiry, kolaborasi, proyek, dan kesempatan anak untuk mengekspresikan pemikirannya melalui berbagai cara.
Tetapi jangan memilih sekolah hanya karena terdapat kata “Reggio Emilia” pada website atau brosurnya.
Lihat penerapannya.
Saat school visit, perhatikan apakah guru benar-benar mendengarkan anak.
Lihat bagaimana pertanyaan anak dikembangkan.
Perhatikan material yang tersedia.
Cari dokumentasi proses belajar.
Tanyakan bagaimana guru menentukan proyek berikutnya.
Dan cari tahu bagaimana sekolah menghubungkan pendekatan Reggio Emilia dengan kurikulum atau standar pembelajaran yang mereka gunakan.
Karena dua sekolah di Indonesia yang sama-sama menyebut dirinya “Reggio-inspired” belum tentu memberikan pengalaman pendidikan yang sama.
Jangan Hanya Cari Nama Kurikulumnya, Pahami Cara Anak Belajar
Ketika memilih sekolah, orang tua memang perlu mengetahui kurikulum yang digunakan.
Tetapi kurikulum hanya satu bagian dari gambaran yang lebih besar.
Cara sekolah memandang anak, kualitas guru, lingkungan belajar, ukuran kelas, hubungan sekolah dengan keluarga, serta metode pembelajaran juga menentukan pengalaman anak sehari-hari.
Reggio Emilia mengingatkan kita pada satu gagasan sederhana tetapi penting: anak bukan hanya penerima informasi. Anak adalah peserta aktif dalam proses belajarnya sendiri.
Itulah mengapa Reggio Emilia lebih tepat dipahami sebagai pendekatan pendidikan daripada paket kurikulum.
Jadi, lain kali kamu menemukan sekolah yang menuliskan “Reggio Emilia”, coba gali satu tingkat lebih dalam.
Bukan hanya:
“Apakah sekolah ini menggunakan Reggio Emilia?”
Tetapi:
“Bagaimana prinsip Reggio Emilia terlihat dalam kegiatan anak setiap hari?”
Jawabannya akan memberikan gambaran yang jauh lebih berguna untuk menentukan apakah pendekatan tersebut cocok untuk anak kamu.
Sedang mencari preschool, TK, SD, SMP, atau SMA? Temukan berbagai jenjang sekolah di Indonesia di website kami dan kenali kurikulum serta pendekatan pendidikan yang digunakan sebelum menentukan pilihan untuk anak kamu.



